Buku pertama nih, Laskar Pelanginya Andrea Hirata…. tau dong, novel yang lagi naik daun, aku aja telat bacanya. Sebetulnya lebih tepat disebut biografi sastra kali (eh emang ada istilah itu, hehe…), karena menceritakan kisah nyata dari penulisnya, perjuangan seorang anak pulau Belitong menggapai cita-citanya. Wah seru bangeeeet…. Gimana perjuangan mereka menaklukkan alam untuk mencapai sekolah, gimana serunya belajar dengan segala keterbatasan, gimana ketulusan dan kecerdasan para tenaga pengajar dalam mengasuh anak didiknya, kayak baca buku Totto Chan deh… Cuma alurnya emang rada lompat-lompat, padahal pengen tau cerita masa SD-nya lebih banyak, pasti seru. Tapi di situlah asiknya baca novelnya Andrea, semau gue banget, apa yang dia pengen tulis dia tulis, peduli amat dengan pakem. Mungkin yang ditulis itu diprioritaskan betul-betul momen-momen yang paliiing berkesan banget, sehingga tekesan lompat-lompat. Yang antik, di chapter terakhir tiba-tiba ceritanya ganti sudut pandang, tadinya dari si Ikal (Andrea sendiri), di bagian ini tiba-tiba diceritakan dari sudut pandang Syahdan, temannya, udah satu bab itu aja, hehe…. Apapun itu, mereka (tokoh-tokoh di Laskar Pelangi) sangat beruntung, di usia yang sangat muda sudah berani bermimpi, sudah belajar membuat rencana masa depan. Sebagai anak kota yang segala-galanya lebih mudah sebetulnya, aku merasa rada telat bermimpi, tapi… gak ada kata terlambat lah…! Ada satu hal yang bikin jiper juga baca novel itu sebenernya, bahwa menggapai mimpi itu nggak mudah! Ada masanya turun, turuuun banget, waktu orang lain entah sudah di mana, sementara kita masih berkubang di tempat yang sama, bahkan seperti mundur ke belakang….. Hii…kalo bisa sih langsung sukses aja, bisa gak ya, hihi…. Jadi penasaran deh apa yang terjadi dengan tokoh-tokoh di cerita itu sekarang…
Buku kedua… A Thousand Splendid Suns…. Ga dapet cover Indonesianya neeh….
At least, membaca dua buku di atas bikin aku merasa bersyukur, alhamdulillaah… betapa dikasih begitu banyak kemudahan dalam hidup. Nggak ada alasan untuk nggak punya cita-cita dan sembunyi di balik keterbatasan-keterbatasan yang nggak ada nilainya sama sekali dibanding mereka-mereka…. Hiks, betul-betul menyentuh….